Panurata pun lalu menyahut, “Nah, setelah mendengar penjelasan juru masak kita, kita cicipi ya..” Trimbil pun lalu menyela, “Mas, doa dulu dong!” Dengan sigapnya Judesanti pun lalu tanggap, “Iya Pak …lupa neh…mari kita berdoa,”Tuhan terimakasih atas perjumpaan kami siang ini, berkatilah makanan ini agar menguatkan kami untuk memuliakan nama-Mu. Demi Kristus pengantara kami!” Lalu mulailah mereka makan bersama.
Di tengah makan, Trimbil pun membuka pembicaraan, “Wah..Mas Panu, ternyata enak juga ya masakan isterimu…meski daging ayam ini tidak asin, tapi rasanya ehmm panas jahe dan nikmat ..! Jerawati pun tidak kalah memuji Judesanti, “Wah…enak pisaaan…!” Judesanti tersenyum bangga, “Iya makasih lho pujian Mas Trimbil dan Jeng Jerawati..saya jadi maluuu, tapi biasa saja kok!” Panurata pun menyela, “Inilah namanya makan bersama, kan?” Trimbil pun tidak begitu saja mengiyakan, “Lho,kita kan sudah makan bersama…lha biasanya…apa kita nggak makan bersama? Apa bedanya di sini dan di rumah sendiri? Apa bedanya makan dengan keluarga sendiri dan dengan keluarga orang lain?” Jerawati mulai mencoba berpendapat, “Gini lho,Mas, maksudnya, makan bersama itu ya pasti gembira, apapun yang kita makan ini sederhana, tapi hati ikut bergembira…! Coba kalau kita makan di rumah, kan kita sering diam, dan jarang tertawa seperti sekarang, kan?” Trimbil melotot, ‘Wah…jangan buka kartu gitu dong..itu rahasia keluarga!” Jerawati nggak mau kalah, “Pak, mumpung ada contoh yang baik bagaimana makan bersama…kan kita bisa juga makan bersama dengan gembira!” Panurata pun ikut tersenyum, “ya sudah, kok malah perang dunia, nanti saja di rumah kalau mau perang dunia he he he!” Judesanti juga mulai menambah pendapat Panurata, “Begini lho, kita itu berusaha gembira, karena ya…ini semua kan rejeki dari Tuhan, Pak, makin sederhana kita memasak, makin kita merasa hidup itu penuh anugerah, tapi kalau kita pinginnya masak yang bumbunya serba enak, lha nanti kan kita malah nggak bisa gembira.!” Trimbil lalu menyahut, “Bener Jeng, nanti saya coba akan bergembira kalau makan bersama dengan isteriku tercinta ini, karena yang masak bukan tetangga sebelah, tapi karena isteriku! Panurata mengiyakan, “nah begitu dong…jadi bergembiralah waktu makan bersama, jangan dilihat sayurnya, tapi siapa yang diajak makan, dan siapa yang mempersiapkannya…!
Tanpa terasa, mereka sudah kekenyangan makan siang, apalagi ada es buah. Tapi waktu sudah jam tiga siang. Trimbil pun mulai pamitan, “Mas Panu dan Jeng Judes, kami mau pamit, terima kasih sudah bisa makan bersama dengan gembira, dan yang penting dapat resep baru..ayam jahe..!” Mas Panu pun membalas, “Iya terima kasih banyak sudah berkunjung, saya pun jadi ikut gembira…padahal tadi pagi baru saja isteri saya ini marah marah!” Judesanti lalu menyela, “Wah…Mas..jAwas! Jangan memulai peperangan!’ Pak Trimbil dan Jerawati tertawa mendengarkan omongan Juedesanti, “Jeng Judes lho, aya aya wae!” Panurata hanya tersipu sipu malu, “Begitulah, isteri saya ini..pinter masak sih, tapi…” Trimbil lalu jadi penasaran, “Tapi apa to….?” Jerawati menepuk punggung suaminya, “Sudah Pak, nggak usah ingin tahu…rahasia keluarga !!” Panurata dan Judesanti hanya tersenyum..! Mereka pun berjalan sambil keluar jalan mengantar tamu mereka
Minggu itu, berakhir dengan kegembiraan untuk keluarga Trimbil Jerawati dan Panurata Judesanti. Moga moga makan bersama memang menjadi kegembiraan bukan tekanan!