Sungguh menjadi sebuah kontroversi film karya Hanung Bramantyo ini. “Wanita Berkalung Sorban”. Mungkin sebagian dari anda sudah menonton film ini atau mungkin sebagian dari anda belum menonton film ini. Film yang sedang ramai diberitakan ini, katanya menjelek-jelekkan agama islam. Mari kita telusuri. Di film ini Hanung mencoba menunjukkan suatu perubahan. Perubahan itu berarti sesuatu yang buruk di ubah menjadi sesuatu yang baik.
Namun,menurut saya, banyak orang atau sekelompok masyarakat yang salah menafsirkan arti dari film ini. Banyak dari mereka yang menentang film ini. Mereka berkata bahwa film ini menjadikan sosok agama Islam menjadi jelek karena adanya kekerasan. Bahkan Ketua MUI melarang masyarakat untuk menonton film ini.
Ketika saya menonton acara debat di TV One, disitu terdapat 2 kubu, yaitu kubu pendukung Hanung ( PRO ) dan Kubu yang kontra dengan film ini.Saat sesi pertama kubu Hanung ,diwakili oleh Hanung sendiri. Sedangkan kubu MUI, diwakili oleh seorang Tokoh agama, seperti ketua pesantren (lupa namanya ). Saat pembawa acara bertanya kepada kubu MUI,” Bukankah banyak film yang menjelek-jelekan pendeta?Tapi umat Kristiani ok2 aja” .Lalu orang itu menjawab ” Apa nama film yang menjelek-jelekkan agama Kristen?”
Menurut saya, banyak sekali film yang menggunakan sosok pendeta sebagai icon yang jelek. Tetapi umat Kristiani menerima secara wajar. mereka hanya berpikir kritis dan sadar bahwa itu merupakan sisi lain dari seorang pendeta. Nah,menurut saya sudah sewajarnya mereka berpikir sesuai dengan nalar,logika dan harus berpikir secara kritis, di film ini kita melihat sisi lain dari sosok Kia’i. Di film ini dikisahkan bahwa seorang Kia’i tega memukuli anaknya sendiri. Disini dapat kita lihat, sosok lain dari seorang Kiai, menurut saya, tittle Kia’i tidak langsung dapat membuat mereka terlihat sosok yang baik di depan orang- orang . Contohnya banyak, SyekFuji yang menikahi anak dibawah umur. Siapa dy?Kiai ,seorang pemilik pesantren. Lalu ketika sesi 2berlanjut, kubu Hanung di wakili oleh seorang aktifis perempuan dan kubu MUI diwakili oleh Wakil Ketua MUI. Aktifis perempuan tersebut berkata, ini hanya masalahnya bahwa kita tidak berani mengakui keburukan kita. Memang benar bahwa agama itu suci, semua agama itu suci, tapi penganut-penganut agama tsb, belum tentu semuanya suci.
Jadi kita harus menerima bahwa ada suatu sisi buruk dalam diri kita. Saya setuju sekali dengan hal tersebut. Tentu kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah,hal itu tergantung dari kita bagaimana dalam menjalaninya,apakah kita akan membiarkan kekurangan tu semakin terasa nyata,ataukah kita akan membuat kekurangan itu sebagai suatu kelebihan. Lalu saya juga ingin memberi tanggapan tentang pernyataan wakil ketua MUI, beliau berkata bahwa didalam film ini telah terjadi penyimpangan, contohnya hukum rajam, poligami. Saat beliau berkata poligami, saya langsung berpikir,,”HELLLOOO~~” poligami anda bilaang sebagai penyimapangan dalam agama islam. Tapi mari kita lihat secara fakta,banyak sekali tokoh agama yang melakukan poligami sampai menikahia anak dibawah umur. Mungkin beliau harus memikirkan apa yang dikatakannya.
Jadi,menurut saya film ini wajar-wajar saja untuk diton-ton. didalam film ini,mereka menggunakan pakaian yang sewajarnya,menutup aurat. Perbedaan-perbedaan pendapat memang wajar. Justru inilah yang akan membuat sosok hanung bramantyo akan menjadi lebih bijak. Terimakasih. Maaf kalao ada kata yang menyakitan.
ditulis oleh Rhenna Gautama